Showing posts with label ikhtibar. Show all posts
Showing posts with label ikhtibar. Show all posts

Tuesday, March 11, 2014

Untukmu MH370

UNTUKMU MH370



Jiwa dan raga bagai terobek,
Menangisi sebuah kehilangan,
Laksana burung patah sayap, 
Kapal hilang pengemudi,
Puas mencari di segenap alam, 
Permukaan laut direntasi,
Lautan dalam direnangi,
Angkasa dijelajahi,
Namun sampai kini kehilangan masih tidak dapat dijejaki,
Hati mengeluh  hampa,
Jiwa rasa terseksa
Kerinduan semakin membara,
Pada ayah, ibu, kakak, abang, adik dan rakan, 
Apalah nasib kalian di sana, 
Ayuh kita panjatkan doa,
Semoga ada jalan menanti,
Ada kebuntuan pecah menjadi saksi, 
Pada sebuah kisah yang nyata menjadi misteri,
Seluruh tumpuan kini hanya pada dia MH370, 
Empat hari menghilang tanpa jejak, 
Mengenang nasib yang belum pasti,
Namun harapan menggunung tinggi,
Semoga semuanya selamat kembali,
Dipanjatkan doa siang dan malam tanpa henti,
Moga Tuhan mengasihani,
KepadaMu kami berserah kepadaMu kami memohon pertolongan
Tunjukkan jalan,
Mudahkan urusan,
Kuatkan keimanan,
Diberi keselamatan dunia dan pengakhiran,
Menantikan detik kepulangan, 
Untukmu MH370,
Kerana seluruh alam merinduiMU PASTI....

11.27am/11032014


 

Sunday, August 14, 2011

rezeki ada di mana-mana asalkan rajin berusaha...


Cerita ni diambil dari buku Menjejaki Jutawan Senyap hasil tulisan Dr. Rusly bin Abdullah...

Baca pun baca jugak, dan jangan lupa ambil pengajaran!

Sambil bercerita beliau berseloroh,

"Orang lain datang ke Malaysia sebagai turis, datangnya naik pesawat... turunnya kaki dulu... Pak!"

"Tapi saya sebagai pendatang haram, datangnya naik perahu... turunnya kepala dulu... Pak!"

"Bapak tahu? Perahu yang membawa pendatang enggak pernah rapat ke daratan. Selalu sampainya waktu subuh. Juragannya melihat-lihat dari jauh. Sekira-kira sudah kelihatan pohon kelapa kami didorong ke laut Pak!... Aduh berenang Pak. Sampai di daratan kedinginan! Pasrah saja Pak... Siapa saja yang datang mengambil saya, akan saya ikut".

Dengan nada pilu Diyono meneruskan cerita,

"Mulanya saya bekerja sebagai kuli di ladang kelapa sawit di Perak, Pak! Sesudah satu tahun bekerja...gajinya masih tidak dibayar, akhirnya saya boyongan ke Kuala Lumpur dengan beberapa orang teman".

Cerita Diyono lagi,

"Selepas tertipu oleh kontraktor ladang kelapa sawit...saya hampir putus asa Pak! Tapi mengingat ibu saya di desa yang telah menjual sawahnya untuk mengongkosi saya ke Malaysia, saya jadi penasaran. Tapi penasaran saya positif Pak! Saya bersumpah enggak akan pulang ke Jawa kecuali saya sudah bisa membeli sawah baru dan rumah baru untuk ibu saya".

Bicaranya makin lantang dan bersemangat, sinar matanya jernih dan tajam,

"Hampir sebulan saya mundar-mandir di Kuala Lumpur, Pak! Mahu bekerja takut tertipu lagi. Pokoknya saya enggak mahu buru buru, mahu "rileks" dulu kata orang Malaysia, sebelum memutuskan untuk bikin apa seterusnya".

Dengan nada bersemangat beliau kemudiannya menyambung cerita,

"Waktu mundar-mandir di Kuala Lumpur itu saya perhatikan tiga perkara Pak!"

1. Pertama: "Setiap orang yang bergerak (berjalan) di KL ini ada wang di sakunya. Cuma bedanya ada yang bawa sedikit dan ada yang bawa banyak. Pokoknya setiap orang bawa wang".

2. Kedua:
"Barang yang harganya RM1.00 kalau di KL ini sudah tidak ditawar orang lagi Pak. Pokoknya asal sesuatu barang itu berharga RM1.00 sudah dikira sangat murah - setiap orang termasuk anak kecil bisa membelinya".

3. Ketiga:
"Bawa apa pun ke KL pokoknya bisa menerangkan kegunaannya, akan ada yang membeli. Betul enggak Pak?"

Diyono berhujah dengan penuh yakin.

"Nah... Dari pemerhatian saya itu, sesiapa pun yang bisa memproduksi barang, dijual dengan harga 50sen atau RM1.00 akan laris dan dapat hasil yang lumayan Pak!"

Saya hanya mengangguk-angguk dan semakin berminat mendengar ceritanya.

"Jadi saya bikin air soya dan cendol merah saja Pak... Kerana saya taunya cuma bikin dua barang itu!"

"Ooh!... Di mana kamu berniaga?" saya ingin tahu lagi.

"Mula-mula saya menumpang berniaga waktu sore di sebuah warung di Kampung Baru Pak. Jualan hari pertama enggak habis, tapi dapatnya kok RM100, saya semakin yakin lantas warung jualan air saya tambah dari satu jadi dua, dua jadi tiga. Dalam dua tahun saya sudah punya 7 warung Pak! Kesemuanya ditunggu orang gajian saya"....

Diyono menerangkan secara terperinci, riak mukanya penuh kebanggaan.

"Bapak sendiri bisa menghitung berapa wang yang saya dapat setiap bulan. Katakan, setiap satu warung saya dapat RM100 bersih sehari, kalau tujuh berapa Pak sehari? Kan RM700! Sebulan RM21,000, Pak! Lumayan enggak, Pak!"

Diyono bercerita dengan bersemangat bercampur bangga.

"Percaya enggak Pak... Berjualan air di pinggir jalan saja di Malaysia bisa pakai BMW!"

p/s: kesimpulannya orang asing yg datang ke Malaysia boleh hidup senang tapi orang Malaysia sendiri banyak menyalahkan pihak lain apabila keinginan mereka tidak dipenuhi. Rezeki ada di mana-mana asalkan kita rajin berusaha pasti Tuhan memberikannya. InsyaAllah...